Menggunakan Redis Cache Untuk Optimasi WordPress

WordPress secara default sudah membekali dirinya dengan object cache sejak 2005, cache ini menyimpan data apa pun secara otomatis dari database dalam memori PHP untuk mencegah kueri yang berulang-ulang.

Namun sayangnya object cache ini hanya menyimpan object untuk satu kali pemuatan halaman saja, kemudian membuang object dalam cache di akhir permintaan, sehingga object tersebut harus dibangun ulang dari awal saat halaman diminta kembali.

Sebagai CMS, WordPress tentu sangat bergantung pada database. Oleh karena itu, efisiensi basis data sangat penting untuk meningkatkan skala WordPress.

Jika website dengan traffic tinggi dan permintaan ke halaman menghasilkan banyak sekali kueri basis data, otomatis server hosting akan dapat dengan cepat menjadi kewalahan, yang pada saatnya akan berdampak negatif pada performa website Anda.

Maka meningkatkan object cache menjadi sangat penting untuk optimasi pada WordPress, sehingga kueri basis data di-cache secara terus menerus diantara pemuatan halaman, sehingga mengurangi beban pada MySQL data base sekaligus juga mengurangi waktu respon website Anda. untuk itu opsi yang lainnya di SEOTENTIC adalah dengan menggunakan Redis Cache.

Redis server di Seotentic disediakan terpisah dari server hosting, untuk terhubung ke Redis server telah tersedia IPv4 internal 10.0.0.5 dengan port 6379 yang hanya dapat diakses hanya dari hosting server Seotentic saja.

Jika Anda sudah siap, langkah berikut bisa diikuti untuk dapat menggunakan Redis Cache di website Anda:

1. Edit wp-config.php dan tambahkan baris kode di bawah

// adjust Redis host and port if necessary 
define( 'WPREDISHOST', '10.0.0.5' );
define( 'WPREDISPORT', 6379 );

2. Install Plugin Redis Object Cache. Buka Pengaturan > Redis dan klik “Enable Object Cache

Download plugin Redis Object Cache: https://wordpress.org/plugins/redis-cache/

Mudah bukan? disinilah Redis Cache dapat mengoptimasi wordpress Anda dan membantu meringankan beban pada server. Redis Cache menyimpan salinan dari setiap permintaan dan kemudian pada saat permintaan yang sama datang lagi, Redis Cache akan memeriksa cache dan melayaninya dari sana. Jika tidak ada salinannya, permintaan akan dikirim ke server untuk diproses dan dikompilasi, dan dalam perjalanan kembali ke browser, salinannya disimpan dalam cache.

Masukkan email untuk berlangganan artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *